Roehana Koeddoes atau Ruhana Kuddus hari ini dipajang Google, Siapakah dia?

Roehana Koeddoes atau Ruhana Kuddus

Halaman depan mesin pencari atau search engine Google pada hari ini menampilkan wajah seorang perempuan mengenakan kerudung khas Sumatera. Perempuan pada hani ini di Google Doodle adalah Roehana Koeddoes, siapakah dia?

Roehana Koeddoes atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ruhana Kuddus merupakan salah satu pejuang wanita dari Indonesia. Ia tidak terkenal layaknya pahlawan Indonesia lainnya seperti Cut Nyak Dien, RA Kartini, dan lain-lain.

Tetapi Roehana Koeddoes atau Ruhana Kuddus ini termasuk salah satu pahlawan nasional Indonesia. Anugerah pahlawan nasional diberikan kepadanya pada 8 November 2019 oleh, Presiden Joko Widodo berupa gelar pahlawan nasional berdasarkan keputusan Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan.

Profil Roehana Koeddoes atau Ruhana Kuddus

Roehana Koeddoes atau Ruhana Kuddus merupakan jurnalis perempuan pertama Indonesia yang menjadi simbol kebebasan berekspresi dan kesetaraan gender. Ia dilahirkan di Kabupaten Agam pada tanggal 20 Desember 1884

Dikutip dari Wikipedia, Roehana Koeddoes atau Ruhana Kuddus lahir dari ayahnya yang bernama Mohamad Rasjad Maharadja Soetan dan ibunya bernama Kiam. Ia merupakan kakak tiri dari Soetan Sjahrir yang merupakan Perdana Menteri Indonesia pertama dan juga bibi dari penyair terkenal yaitu Chairil Anwar.

Roehana Koeddoes atau Ruhana Kuddus juga sepupu dari H. Agus Salim. Pada zaman yang sama dengan RA Kartini, ketika semua akses untuk perempuan dalam mendapat pendidikan yang baik sangat dibatasi.

Roehana Koeddoes atau Ruhana Kuddus mendirikan salah satu sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS) di Koto Gadang tahun 1911. Disamping itu ia juga aktif di bidang pendidikan yang disenanginya, dimana ia menulis di surat kabar perempuan yaitu Surat Kabar Poetri Hindia.

Ketika dibredel oleh pemerintah Belanda, ia berinisiatif mendirikan surat kabar yang bernama Sunting Melayu dan surat kabar ini tercatat menjadi salah satu surat kabar perempuan pertama di Indonesia.

Pendirian surat kabar ini tidak lepas dari banyaknya kabar kesewenang-wenangan terhadap kaum perempuan yang terjadi pada masa itu. Bahkan, hampir semua surat kabar yang dibacanya, tak pernah absen memberitakan kabar itu

Roehana Koeddoes atau Ruhana Kuddus kemudian mencari cara untuk dapat menyuarakan suara para kaum perempuan. Beberapa pimpinan redaksi surat kabar ia ajak berkontribusi, salah satunya Soetan Maharadja, yang merupakan pimpinan redaksi Utusan Melayu.

Dalam surat yang ia tulis, Roehana Koeddoes atau Ruhana Kuddus mengungkapkan keinginannya untuk memperjuangkan nasib para perempuan, sehingga membuat Soetan ikut bersimpati. Keduanya lalu sepakat bertemu untuk mendirikan surat kabar khusus perempuan pertama di Sumatera Barat, yaitu Soenting Melajoe yang bermakna “Perempuan Melayu”, pada 1912.

Kemudian Roehana Koeddoes atau Ruhana Kuddus yang masih berkerabat dengan Soetan Sjahrir yang merupakan tokoh pergerakan Indonesia, selanjutnya Roehana Koeddoes atau Ruhana Kuddus menjadi pimpinan redaksi.

Biodata Roehana Koeddoes atau Ruhana Kuddus

Lahir: 20 Desember 1884
Asal: Koto Gadang, Agam, Sumatra Barat
Meninggal: 17 Agustus 1972 (umur 87)
Pekerjaan: Pengajar, wartawan
Suami: Abdoel Koeddoes
Orang tua: Mohamad Rasjad Maharadja Soetan (ayah) Kiam (ibu)
Kerabat: Soetan Noeralamsjah, Soetan Sjahrir (adik tiri), Agoes Salim (sepupu), Chairil Anwar (kemenakan)

Sejarawan Universitas Andalas Padang Gusti Asnan mengungkapkan, kehadiran surat kabar tersebut rupanya cukup ampuh dalam menginspirasi surat kabar perempuan lainnya untuk tumbuh. “Delapan tahun setelah kelahirannya, terbit pula surat kabar Soeara Perempoean, empat tahun setelah itu lahir pula surat kabar Asjraq,” kata Gusti.

Di samping itu ia ikut terlibat dalam penerbitan Soenting Melajoe, Roehana Koeddoes atau Ruhana Kuddus juga ikut dalam penerbitan beberapa surat kabar lainnya bersama Siti Satiaman dan Parada Harahap diantaranya surat kabar Perempoean Bergerak di Medan dan surat kabar Radio di Padang.

Tidak itu saja, beberapa tulisan Roehana Koeddoes atau Ruhana Kuddus juga diterbitkan dalam banyak surat kabar yang lainnya, baik di Sumatera atau di Pulau Jawa, antara lain yaitu dalam surat kabar Poeteri Hindia. “Dari pengungkapan tersebut, sekali lagi, tidaklah berlebihan rasanya mengatakan bahwa Ruhana Kuddus adalah serorang tokoh perintis penertiban surat kabar perempuan dan wartawati perempuan pertama yang memiliki andil besar bagi perkembangan dunia pers Indonesia,” kata Gusti.

Pada 1908, Roehana Koeddoes atau Ruhana Kuddus menikah dengan Abdoel Koeddoes, ia seorang aktivis pergerakan yang juga merupakan notaris serta penulis. Pernikahan itu tidak membuat Roehana Koeddoes atau Ruhana Kuddus berhenti bergerak tapi ia semakin aktif berjuang.

Bersama sang suami, Roehana Koeddoes atau Ruhana Kuddus semakin bersemangat untuk mendidik, terutama para perempuan di Kota Gadang. Selain di dunia jurnalistik, Roehana Koeddoes atau Ruhana Kuddus juga dikenal cukup aktif di sektor pendidikan.

Pada tahun itu pula, Roehana Koeddoes atau Ruhana Kuddus mendirikan sekolah yang dinamai Kerajinan Amai Setia (KAS) pada tanggal 11 Februari 1911. Sekolah tersebut ditujukan untuk anak-anak perempuan dan akan dididik dengan sejumlah pengajaran berupa kerajinan tangan, tulis baca huruf arab dan latin, pendidikan rohani dan keterampilan rumah tangga.

Sebelum mendapat gelar pahlawan, Roehana Koeddoes atau Ruhana Kuddus juga menerima penghargaan sebagai Wartawati Pertama Indonesia (1974). Lalu pada 9 Februari 1987 yaitu Hari Pers Nasional ke-3, Menteri Penerangan Harmoko menganugerahinya sebagai Perintis Pers Indonesia. Roehana Koeddoes atau Ruhana Kuddus meninggal dunia pada tanggal 17 Agustus 1972 dalam usia 87 tahun.

Semoga Roehana Koeddoes atau Ruhana Kuddus dapat menginspirasi para perempuan Indonesia untuk terus selalu berjuang!

Leave a Comment